Showing posts with label English Thematic. Show all posts
Showing posts with label English Thematic. Show all posts

Monday, October 1, 2012

English Thematic 6: Final Assignment



Prof  want us to write 10 pages paper for final assignment, it had to be related to at least one of books she 'd been given to us, I chose "On the Road".  She let us do it  in English or Bahasa, since  I was busy with my other degree graduation stuff at the same time, I chose Bahasa to make it easy. Here we go!  

**************************************************



Fauzana Fidya Rizky
090653****
Bahasa Inggris Tematis
Tugas Akhir

Interaksi Simbolik Yang Dipengaruhi Oleh Eksistensi The Beat Generation Pada Novel On The Road Karya Jack Kerouac

1.      Pendahuluan
            The Beat Generation adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang menentang norma-norma yang berlaku. Pergerakan ini muncul pertama kali di Amerika pada 1950-an, yang ternyata menjadi era yang sangat menghawatirkan. Peradaban industri yang intensif setelah Perang Dingin membawa kemakmuran ekonomi di Amerika, namun menyebabkan ketelanjangan mental. Individualitas dan kebebasan telah dirampas tanpa ampun. Gerakan The Beat Generation tidak hanya mencanangkan konsepsi sastra baru tapi juga memprediksi pembebasan keseluruhan pikiran. Jauh lebih penting lagi telah melekat pada pilihan hidup penganutnya yang pada masa sulit. Mereka memeluk individualisme ekstrim, dan mengambil tindakan “gila” sebagai sarana yang efektif untuk menerobos keterikatan sistem moral dan hukum konvensional. Persebaran budaya The Beats Generation berkembang melalui interaksi sosial dalam masyarakat.
            Manusia hidup dalam suatu kelompok masyarakat, dan akan saling berinteraksi satu sama lain, sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk sosial yang tidak dapat bertahan hidup sendiri.  Melalui proses interaksi simbolik tersebut, terjadilah suatu proses timbal balik yang kemudian mempengaruhi pihak-pihak yang terkait di dalamnya, dalam hal ini manusia sebagai makhluk individu yang khas dan istimewa. Pengaruh lingkungan sekitar dalam proses interaksi simbolik itulah yang pada akhirnya membentuk karakter tiap-tiap individu manusia. Perbincangan mengenai interaksi manusia dalam kehidupan sosial sudah banyak diangkat dalam berbagai penelitian ilmiah dan karya-karya sastra terkenal. Dalam Penelitian ini penulis mengangkat  fenomena yang diambil dari novel On the Road karya Jack Kerouac.
            Keputusan dalam bertindak dilatarbelakangi oleh berbagai macam dasar. Dalam buku yang berjudul Mind, Self and Society, George Herbert Mead memfokuskan interaksi simbolik pada tiga ide dasar yaitu, pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Ide-ide dasar ini membentuk makna yang menghasilkan interaksi simbolik. Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi. Berdasarkan teori tersebut, dapat diteliti bahwa terjadinya pergerakan The Beat Generation dipengaruhi oleh adanya Interaksi Simbolik antar masyarakat.
            Sebagai objek penelitian, Novel karya Jack Kerouac, On the Road merupakan salah satu karya sastra yang berada dalam era pergerakan artistik pada tahun 1950-1960an di Amerika yang menggambarkan kebebasan, penggunaan narkoba, dan seks bebas. Novel On the Road menceritakan tentang seorang jurnalis bernama Sal Paradise yang melakukan sebuah perjalan dari bagian timur ke barat Amerika. Perjalanan seperi itu pada tahun 1950an di Amerika merupakan hal yang tidak biasa. Keputusan yang dilakukan Sal tersebut dilatar belakangi oleh keinginannya untuk keluar dari zona nyaman di hidupnya. Cerita ini tidak berhenti pada saat Sal memutuskan untuk melakukan perjalan, namun hal tersebut justru sebuah awal dari cerita On The Road. Keputusan Sal untuk keluar dari zona nyaman dengan melakukan sebuah perjalanan adalah bentuk dari tindakan yang dipengaruhi oleh The Beat Generation. Interaksi simbolik atas tindakan tersebut juga dipengaruhi oleh adanya sugesti dari seorang teman, Dean, yang mengispirasikan Sal untuk keluar dari zona nyaman. Penulis berasumsi bahwa tindakan tersebut dipengaruhi adanya factor psikologis. Berdasarkan teori Interaksi simbolik oleh Mead, Interaksi dipengaruhi oleh faktor psikologis, yaitu imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpatik.

2.   Pembahasan
2.1 The Beat Generation
            The Beat Generation muncul pertama kali di Amerika pada 1950-an, yang ternyata menjadi era yang sangat menghawatirkan. Peradaban industri yang intensif setelah Perang Dingin membawa kemakmuran ekonomi di Amerika, namun menyebabkan ketelanjangan mental. Individualitas dan kebebasan telah dirampas tanpa ampun. Gerakan The Beat Generation tidak hanya mencanangkan konsepsi sastra baru tapi. Juga memprediksi pembebasan keseluruhan pikiran. Jauh lebih penting lagi telah melekat pada pilihan hidup penganutnya yang dibuat di masa sulit. Mereka memeluk individualisme ekstrim, dan mengambil tindakan “gila” sebagai sarana yang efektif untuk menerobos keterikatan sistem moral dan hukum konvensional. Istilah " The Beat Generation " diperkenalkan oleh Jack Kerouac sekitar tahun 1948 untuk menggambarkan lingkaran sosialnya yang didukung dengan karya-karya sastra yang mengusung pergerakan The Beat Generation seperti, termasuk On the Road oleh Jack Kerouac, Howl oleh Allen Ginsberg dan Naked oleh Lunch William Burroughs. Mereka merekam pengalaman mereka sendiri dan mengungkapkan kebenaran mengenai kepahitan peradaban modern yang merampas kebebasan manusia. Bagi mereka, seni dan perilaku terkait erat; seni mencerminkan perilaku, sedangkan perilaku terwujud dari seni. Grakan The Beats Generation tentunya memiliki factor-faktor yang melatarbelakanginya. Menurut Dealunion (2004), gerakan The Beat Generation dilatarbelakangi oleh faktor sosial dan politik. Setelah Perang Dunia II, Masyarakat Amerika mulai cenderung menjadi masyarakat yang tertutup. Mekanisasi yang intensif dan penerapan inovasi teknologi mengakibatkan hilangnya privasi dan kebebasan rakyat, serta dianggap sebagai ideologi tertinggi, yang benar-benar bisa memanipulasi manusia. Penyalahgunaan senjata nuklir menciptakan sumber teror baru yakni, meyakinkan orang bahwa manusia akan hancur oleh kekuatan ilmu pengetahuan. Seiring meningkatnya kekuatan Pentagon, markas militer banyak yang didirikan di seluruh dunia untuk membuka jalan bagi kebijakan supremasi Amerika. Ide-ide toleransi tradisional atas perbedaan ideologi telah merosot menjadi semangat untuk keseragaman politik. Penghormatan pada individualitas telah ditolak, yang diganti dengan penekanan opini publik dan sensor untuk menulis karya. Perkembangan industrialisasi dipandu Amerika ke dalam kemakmuran ekonomi tetapi menyebabkan kurangnya mental dan hilangnya kejujuran. Akibat kondisi social dan politik yang seperti itu, muncullah gerakan The Beat Generation yang memulai gaya baru penuh kebebasan untuk menentang norma-norma yang sedang berlaku. Beats dianggap sebagai kelompok sinis, pecandu narkoba, dan homoseksualitas. Mereka membawa diri mereka sebagai sebuah kelompok yang ditinggalkan oleh budaya ortodoks, serta  memegang pandangan baru dan eksentrik pada konsep moral.
            Kemudian, gerakan The Beat Generation juga dilatarbelakangi oleh hasrat penolakan pada nilai-nilai masyarakat kelas menengah yang berlaku di Amerika. Mereka menunjukkan penghinaan yang kuat pada gaya hidup nyaman tetapi sangat membosankan dari kelas menengah yang menahan nafas kebebasan individu sampai mati. Mereka menutup mata untuk terbawa arus dan mengejar kehidupan baru yang menarik yang penuh petualangan dan kejutan, namun telah menembus batasan moral konvensional. Beats memiliki pencitraan buruk seperti, menggunakan obat-obatan terlarang, dan melakukan tindakan kejahatan sebagai interpretasi kebahagiaan hidup, karena mereka berpikir bahwa mereka hidup untuk diri mereka sendiri dan menganggap diri mereka sebagai juara untuk kebebasan. Akan tetapi semuanya berubah menjadi sebaliknya saat mencapai yang tingkat yang ekstrim. Tindakan  pelanggaran menjadi berlebihan. Bahkan mereka dianggap sebagai kelompok yang Bohemian Hedonist. Selain itu, beats juga menganut faham fanatik dengan anarkisme. Menyalahkan pemerintah yang buruk terhadap rezim nasional. Pada tahun 1982, Ginsberg menerbitkan sebuah ringkasan mengenai efek penting dari eksistensi The Beat Generation. Pertama adalah Liberalisasi yang mencakup liberalisasi spiritual, liberalisasi atau revolusi orientasi seksual dan terkadang liberalisasi wanita. Asas kebebasan memang sangat ditekankan pada zaman tersebut, penekanannya adalah kebebasan terhadap hak pribadi khususnya sudut pandang pemikiran. Kebebasan dalam hal penyensoran juga dielukan. Mereka ingin mengekspresikan kebebasa menyampaikan ideologi mereka kepada khalayak ramai. Selanjutnya adalah demistifikasi dan / atau dekriminalisasi ganja dan obat-obatan terlarang. Bagi Beats, menggunakan ganja atau obat-obatan terlarang adalah hak manusia yang tidak dapat dilarang oleh pemerintah. Pengunaannya pun dianggap sebagai bentuk dari kebebasan individu. Oleh karena itu Beats menuntut pemerintah untuk melegalkan penggunaan ganja dan obat-obatan terlarang. Dari segi seni music, Evolusi rhythm and blues ke rock and roll berkembang sebagai bentuk seni yang tinggi sebagaimana dibuktikan oleh The Beatles, Bob Dylan, dan musisi populer lainnya, Penyebaran kesadaran ekologis yang ditekankan sejak dini oleh Gary Snyder dan Michael McClure, gagasan tentang "Planet segar". Adanya Oposisi terhadap peradaban mesin industri militer, seperti yang ditekankan dalam tulisan-tulisan Burroughs, Huncke, Ginsberg, dan Kerouac. Perhatian pada apa yang dikatakan oleh Kerouac, bahwa sebuah "religiusitas kedua" berkembang di dalam peradaban maju. Kembali ke penghargaan terhadap idiosyncrasy sebagai bentuk perlawanan terhadap resimentasi negara. Menghormati tanah air, masyarakat beradat dan makhluk hidup, sebagaimana dinyatakan oleh Kerouac dalam slogannya dalam On the Road: "The Earth is an Indian thing".

2.2 Interaksi Simbolik
            Makalah ini mengambil teori interaksi simbolik yang bersumber dari pemikiran George Herbert Mead. Interaksi simbolik atau yang sering disebut dengan interaksionisme simbolik (symbolic interactionism) merupakan salah satu pendekatan yang paling populer dalam membahas interaksi sosial. Sebelum membahas lebih lanjut tentang pengertian teori interaksi simbolik, akan dijelaskan terlebih dahulu pengertian interaksi sosial. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.
            Menurut Mead, Interaksi sosial tidak selalu ditandai dengan mengadakan kontak muka atau berbicara, tetapi interaksi sosial bisa terjadi manakala masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan orang-orang yang bersangkutan. Hal itu bisa menimbulkan kesan di dalam fikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya. Interaksi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor psikologi, berikut faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi social; yang pertama adalah Imitasi            sebagai proses meniru yang menyebabkan terjadinya interaksi sosial. Lalu, sugesti yang merupakan proses mempengaruhi dari seseorang kepada orang lain. Prosesnya akan efektif apabila penerima sugesti dalam kedudukan lebih rendah, dalam keadaan mental yang tidak seimbang, atau apabila pemberi sugesti adalah orang yang lebih berwibawa. Selanjutnya, identifikasi atau kecenderungan untuk menjadi sama dengan orang lain yang menjadi idolanya. Identifikasi sifatnya lebih mendalam dari imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk pada proses ini. Yang terakhir adalah simpati yang merupakan proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Ketertarikan menyebabkan orang cenderung untuk ingin selalu berhubungan.
            Interaksi sosial menjadi kajian penting dalam sosiologi. Untuk mempelajari lebih dalam mengenai interaksi sosial, sosiologi menggunakan pendekatan perspektif interaksionis, yang salah satu pendekatan yang paling terkenalnya adalah pendekatan interaksionisme simbolik. Kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi. Simbol adalah sesuatu yang diberi nilai dan makna oleh pemakainya. Dengan demikian, simbol yang sama bisa berbeda-beda arti sesuai dengan keinginan pemiliknya. Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (seperti kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol). Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yang bermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain.
            Menurut Herbert Blumer, yang merupakan seorang penganut pemikiran Mead, ia berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolis. Menurutnya, pokok pikiran interaksi simbolik juga ada tiga, yang pertama manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Kedua Blumer mengemukakan bahwa makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Terakhir Blumer mengemukakan bahwa makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Jadi, interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia.

2.2 Interaksi Simbolik Yang Dipengaruhi Oleh Eksistensi The Beat Generation Pada Novel On The Road Karya Jack Kerouac
            Sal Paradise adalah seorang narator dalam On The Road karya Jack  Kerouac. Sal adalah seorang jurnalis muda yang tinggal di New York. Dia memiliki hidup yang normal dan nyaman, namun hal itulah yang membuat dia merasa hidupnya monoton dan kurang pengalaman. Dalam novel ini Sal menceritakan pengalamannya ketika melakukan sebuah perjalanan dari East Coast ke West Coast. Perjalanan dari bagian timur ke barat Amerika pada tahun 1950-an merupakan hal yang sangat luar biasa. Menurut Caball, Timur dalam konteks ini diterjemahkan sebagai intelektualitas, stagnansi, tua, ortodoks, dan kritis. Sedangkan Barat diterjemahkan sebagai gairah, semangat, muda, dan kebebasan. Bagi Sal, Dean adalah ikon representatif dari Barat. Dia menyukai Dean karena semangat, hasrat, intelegensi tak beredukasi yang dimilikinya, yang merupakan gambaran semangat Barat. Pada akhirnya dengan modal $50, Sal pun pergi meninggalkan zona nyamannya, New York, ke tempat yang menurutnya liar, California.
            Tindakan Sal merubah gaya hidupnya merupakan refleksi dari eksistensi The Beat Generation. Seperti yang telah dipaparkan dalam subbab sebelumnya, bahwa pergerakan The Beat Generation dilatarbelakangi oleh kecintaan terhadap kebebasan. Sal yang awalnya adalah seorang Jurnalis yang mempunyai kehidupan monoton akhirnya terpengaruh untuk keluar dari zona nyamannya untuk mengecapi kebebasan. Lebih detil lagi, Interaksi simbolik ditemukan di dalam novel On the Road oleh Kerouac. Dari awal ceritapun tokoh utama sudah menunjukan indikasi interaksi simbolik. Pada saat Sal mengenal Dean (tokoh pendukung utama) yang berasal dari bagian barat Amerika, dia merasa bahwa karakteristik seorang Dean sangatlah menarik. Setelah mengetahui sedikit tentang gaya hidup Dean, Sal pun memutuskan untuk melakukan perjalanan ke California. Tindakan yang dilakukan Sal tersebut dapat dinyatakan sebagai sebuah interaksi Simbolik yang dilatar belakangi oleh faktor psikologis sugesti dan simpati. Sal tersugesti untuk melakukan perjalanan karna menganggap bahwa hidup di bagian barat sangat menyenangkan dan penuh dengan tantangan. Faktor tersebut juga didukung oleh pemikiran pribadinya mengenai makna hidupnya yang dia anggap biasa-biasa saja, sehingga keputusannya untuk keluar dari zona nyaman hidupnya di bagian timur Amerika merupakan pemikiran dasar dari tindakannya untuk melakukan perjalan. Lalu, tindakan tersebut juga dipermantap oleh adanya rasa simpatik yang berasal dari tingkah laku Dean. Secara non verbal Dean telah menyebabkan interaksi simbolik pada Sal. Apresiasi Sal kepada Dean membentuk keinginannya untuk menjadi seperti Dean.
            Selanjutnya untuk memperjelas gaya hidup Beats yang dialami Sal di dalam perjalanan, ada beberapa adegan yang merefleksikannya. Pertama, tindakan untuk mengendarai Cadillac untuk memulai perjalanannya dengan Dean ke Chicago, dan mengakirinya dengan mengubahnya menjadi barang rongsokan. Cadillac adalah mobil impian bagi orang Amerika. Mengendarai Cadillac berarti sebuah kemewahan yang menjadi impian orang Amerika. Akan tetapi tindakan mereka untuk menghancurkan mobil impian itu disebabkan oleh paham generasi The Beat yang berpendapat bahwa kemewahan bukanlah simbol dari kebebasan. Tindakan tersebut juga merupakan refleksi dari paham vandalisme yang dianut kalangan Beats. Jack Kerouac memperkenalkan frase “Beat Generation”di tahun 1948 untuk mengarakteristikkan gerakan pemuda antikonformis di Amerika yang memiliki kehidupan bebas seperti bermabuk-mabukkan, menggunakan obat-obatan terlarang, dan seks bebas (Sante, 2007). Eksistensi generasi “The Beat” membuat mereka bertindak untuk mengahancurkan mobil Cadillac-nya dengan segala kegilaan, kebebasan jiwa, dan gaya hidup mereka. Selanjutnya In Los Angeles, Sal menemukan sisi gelap dari pandangannya mengenai Barat, dia beranggapan bahwa barat itu brutal, hampir seperti hutan. Pada saat itu juga Sal yang sedang ditemani oleh Terry (cinta sesaat Sal), mengalami pelecehan oleh sekelompok remaja yang menghina mereka dari dalam mobil.
            Sal membutuhkan adaptasi dalam obervasi kehidupannya. Pada satu titik dalam perjalan, Sal merasa benar-benar harus meninggalkan San Fransisco. Dia tidak ingin melanjutkan perjalanan kemana-mana lagi selain kembali ke timur. Pada saat itu Sal beranggapan bahwa tempat yang terbaik adalah timur. Akan tetapi lama kelamaan Sal dapat beradaptasi dengan perubahan yang dialaminya. Dia sudah bisa mengatur emosi dan egonya, sehingga terlihat lebih dewasa. Kedewasaan yang diraihnya dari sebuah perjalanan. Beberapa waktu setelah Sal dan Dean kembali ke New York, Sal ingin memulai perjalanan lagi. Setelah mendapatkan uang dari hasil penjualan bukunya ke penerbit, Sal memutuskan untuk pergi ke Barat lagi. Akan tetapi kali ini dia tidak mengajak Dean, dan memutuskan untuk pergi sendirian. Bisa diperhatikan bahwa kali ini Sal tidak mendapatkan pengaruh interaksi simbolik dari Dean. Dia memutuskan untuk pergi ke Barat berdasarkan keinginannya sendiri. Walaupun pada akhirnya Dean ingin ikut bersamanya untuk mengalami pengalaman seru bersamanya. Mexico City merupakan akhir dari kebersamaan Sal dan Dean. Bisa dikatakan disinilah transisi Sal untuk merubah sudut pandangnya terhadap kehidupan. Dia tak lagi berwatak seperti orang dari Timur. Sal menjadi lebih objektif dan lebih bebas lagi dari kehidupan sebelumnya.
3. Kesimpulan
            Penulis menyimpulkan bahwa Novel On The Road Karya Jack Kerouac adalah salah satu karya yang memiliki nuansa The Beat Generation yang cukup kental. Nuansa The Beat Generation dapat terlihat dari latar waktu yang berada pada tahun 1950an, tahun-tahun munculnya Beats di Amerika Serikat dan mempengaruhi budaya masyarakatnya. Pada tahun itulah istilah The Beat Generation di populerkan oleh Jack Kerouac dan sastrawan lainnya melalui karya-karya sastra spektakuler. Kekentalan asas kebebasan sebagai cirikhas utama kaum Beats terlihat dari tema utama dalam On the  Road, yaitu hiruk pikuk sebuah perjalanan pada zaman itu. Cerita ini diawali dengan adanya keputusan dan tindakan pemeran utama, Sal Paradise, seorang narator dalam cerita yang memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan dari bagian timur ke barat Amerika. Tindakan yang diputuskan tersebut merupakan tindakan yang dilatar belakangi oleh interaksi simbolik dalam aspek sosial dan budaya pada tokoh-tokoh di dalamnya dalam bertindak. Aspek Sosial dan budaya yang terkandung bertema karaktersistik dalam kebudayaan dan kehidupan sosial dari msyarakat di The East Coast dan The West Cost. Istilah The East Coast merupakan gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakat Amerika bagian Timur yang terkenal monoton, tidak bersemangat, dan ketat akan peraturan. Sedangkan istilah The West Coast, sebaliknya menggambarkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Amerika bagian Barat yang terkenal dengan kebebasan, semangat, dan hedonisme. Kebrutalan kaum Beats yang merepresentasikan karakteristik masyarakat bagian Barat, mensugesti warga bagian Timur untuk mengimitasi perilaku-perilaku, maupun cara berfikir Beats. Interaksi simbolik tidak hanya terbatas dengan cakupan individu kepada masyarakat saja, namun juga antar individu.
            Dalam cerita ini juga terjadi interaksi simbolik antar individu. Contohnya adalah interaksi simbolik yang terjadi antara Sal dan Dean. Sal yang memang ingin merubah kehidupannya yang nyaman dan biasa-biasa saja menjadi lebih berwarna dengan cara memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke Barat. Akan tetapi pengaruh keputusannya dalam bertindak tersebut tidak hanya semata-mata ingin mencicipi gaya hidup Timur, namun juga mendapat pengaruh dari seorang teman yang diseganinya, Dean. Dean adalah seorang pria berasal dari Denver yang baru saja keluar dari penjara dan mempunyai gaya hidup Beats seperti, seks bebas, menggunakan obat-obatan terlarang, dan menganut faham hedonist. Bagi Sal, Dean adalah orang yang sangat tepat untuk menjadi ikon untuk merepresentasikan karakteristik Barat. Segala pola pikir dan tingkah laku liberal yang ekstrim dari Dean tidak membuatnya beranggapan buruk atas Dean, malahan dia mengaguminya. Interaksi Simbolik yang terjadi dilatarbelakangi oleh rasa simpatik dan sugesti yang diberikan Dean sehingga Sal melakukan interaksi imitasi. Singkatnya, Sal ingin melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan Dean. Akan tetapi di akhir cerita Sal tidak lagi terpengaruhi oleh Dean. Hal tersebut terjadi karena Sal mengalami pendewasaan dalam berfikir seiring dengan perjalanan yang dilakukannya. Dean tak lagi menjadi ikon baginya, namun menjadi sahabat yang menginspirasikannya untuk mengubah kehambaran hidupnya sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, tindakan seseorang dapat dilatar belakangi oleh berbagai aspek dan dari siapapun namun pada akhirnya tindakan seseorang juga dapat dilatarbelakangi oleh perspektif pribadi yang didasari kedewasaan diri.


Referensi

Bisbort, Alan. 2010. Beatniks: a guide to an American subculture. Santa Barbara, CA: Greenwood Press
Caball, Burk. 2005. West Coast Culture. http://ezinearticles.com/?West-Coast-Culture&id=5879634 diunduh pada 31-7-2012
Dealunion. 2004. Beat Generation. http://www.bluesforpeace.com/beat-generation2.htm Diunduh pada 31-7-2012
Ginsberg, Allen. 1985. A Definition of the Beat Generation, from Friction: revised for Beat Culture and the New America. New York.
Holmes, John Clellon. November 19, 1952. This is the Beat Generation. The New York Times Sunday Magazine.
Holmes, John Clellon. 1958. The Philosophy of the Beat Generation. Chicago: Esquire
Mead, George H. 1934. Mind, Self, and Society. University of Chicago.
Sante. 2007. On the Road Again. New York: The New York Times Company. http://www.nytimes.com/2007/08/19/books/review/Sante2-t-1.html Diunduh pada 22-7-2012
Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. rajagrafindo Persada: Jakarta


English Thematic 5: Traumatic memory causes stereotyping


Traumatic memory causes stereotyping


            Everybody potentially has trauma. By the various stories of life and different backgrounds, people can be haunted by trauma. Traumatic memories are relived, with all of the attendant feelings, rather than remembered. Attendant feelings usually lead human perceptions. The perceptions can be translated to a good perceptions or bad perceptions. Stereotyping is one of the bad perceptions’ examples. In City of Fire by Robert Ellis, the main character considered experiencing the emotional thought impacted by traumatic memory that caused a stereotyping statement.  Trauma resulted stereotyping.
            Trauma has sometimes been defined in reference to circumstances that are outside the realm of normal human experience. The word “trauma” is used to describe experiences or situations that are emotionally painful and distressing, and that overwhelm people’s ability to cope, leaving them powerless. Unfortunately, this definition doesn’t always hold true. For some groups of people, trauma can occur frequently and become part of the common human experience. According to Lena Gamble’s experience, she seems not extremely impacted to a horrible actions, but in this case she impacted to a narrow thoughts named “stereotyping”.  There seems to be more than enough mysteries and curiosities to make the story in City of Fire worked quite well. A young woman is found in her bed by her husband, the hapless victim sliced from stomach to neck. The LAPD Robbery-Homicide Division’s Detective Lena Gamble determines a scenario that has victim Nikki Brant’s husband as the killer. Not quite so fast. The murder turns out to be the first in a series of gruesome crimes perpetrated against beautiful women by the same man dubbed Romeo by the press. Gamble is been caught in the headlights of high-profile murder in the past when her rock-star brother was shot on the late-night streets of Hollywood years ago, a grisly homicide the detective hasn’t fully recovered from. The memory of the lost brother created a sense of hopelessness related to the city. As a result, Los Angeles became a stereotype of an awful stereotype.
            Stereotyping on something is hard to be resisted. A stereotype is a belief that may be adopted by specific types of individuals or certain ways of doing things, but that belief may or may not accurately reflect reality (jude and Park). Lena Gamble had stereotyping on the image of Los Angles city as the murder capital of the country. The traumatic memories about lost her brother made her thought so. This is considered as a stereotyping statement because it is not match with what fact says. According to US Department of Justice Federal Bureau of Investigation, murder rate in Los Angles (559) in 2010 is still at average level in United States, compared to Detroit (1,887).
            In conclusion, every bad experience can cause a trauma that impacted to human’s thought. The trauma happened to somebody maybe barely happened or even not considered as a not normal circumstance. Like what happened to Lena Gamble, she had a thought of Los Angles as a murder capital of the country because of her brother killed. That stereotyping thoughts is in contrast with the reality, Los Angles is not the most murder capital of the country, it is only in the average. No matter what the reasons are, stereotyping is not a good thing to be applied to human’s life.





References
             Judd, C. M., & Park, B. 1993. Definition and assessment of accuracy in social stereotypes. Psychological Review.
            US Department of Justice Federal Bureau of Investigation. Uniform Crime Reports. http://www.fbi.gov/about-us/cjis/ucr/crime-in-the-u.s/2010/crime-in-the-u.s.-2010/tables/10tbl08.xls/view accessed on 16-7-2012 


English Thematic 4: The complication of love



            The relationship between couple is based on commitment, but the first reason is supposed to be because of feelings. Marriage is a commitment, but it does not mean the commitment of love. Some people maybe get married because of love, but some people have other reasons. In Love in a Fallen City by Eileen Chang, the characters have the complication of love by involving financial or social status needs and considering true love into a marriage. True love cannot be translated as a marriage.
            Woman could trade the beauty to marriage. Bai Liusu is a young and beautiful woman who was divorced. She could not love someone as purely as a young girl because she need a new marriage that can help her out of financial problem. Bai is a poor girl, as she has no choice but to gamble all her life into man. In order to get a solid marriage, she had to “trade” her beauty and true heart to some man, named Fan Liuyuan. He is a totally different person from Liusu, was back from England. He grew up in foreign country but he thought that real Chinese women are the most beautiful women in the world. Bai attracted him by her real Chinese style especially her bowing the head. This action always provides man a sense of protection to woman. Fan not only loved the beauty of Bai, but also wanted to get her understand all of him. The initial destination of Bai was to get married with Fan. After spending some time with Fan in Hong Kong, she confused about Fan. She was angry because thought that Fan don't want to marry her even though he said he love her. She did not understand why Fan said these words to her, because all her attentions focused on one question about marriage and responsibility, which decided her destiny. Marriage was so important to her that made her lose the ability to love someone without counting the profit she can earn from the relationship. But Bai didn’t care; as she was sure she is much more at adept than the man in all-housing things.             
            Selfishness could be occurred in relationship. Fan was a real playful boy more than a commonly good person. Although lots of pretty young girl liked him, he was attracted by Bai as he saw the same flimsy, conflicted and lonely heart with him. All the things he did have reasons so he tried his best efforts to make her understand him. In fact, he knew she didn’t understand his thoughts, but he was so lonely that he wanted to try an impossible method to win someone’s understand and true heart. Maybe he had not loved her so deeply, but at least he wanted her sincerely. Fan still loved Bai even though he knows what her reason to marry him.  So he asked her to come to Hong Kong again. After the stay with her, he left for England and promised to come back. The story was ordinary if stopped here. Bai and Fan are selfish people who try to gain what they need.
            A hard condition and situation can make people more appreciate things. The war happened in Hong Kong gave the couple a chance to find they need to treasure each other. The war made people think the meaning of life and love. Nothing lasts forever and no exceptions. Bai found what she can rely on was this breath in her body and this person sleeping next to her. Fan was the unique one who can care about her and she was also the unique one to her. At the end they know that They did not need trade because what they desired was not as important as life itself. So they decided to get married. They thought marriage will solved all the complication of love. But at the end, there is still a lot of questions about love to them. Couple should love each other not only because they must live together but also because they understand and appreciate each other from heart. But the love between Bai and Fan began with a trade rather than attraction of individuals.
            In conclusion,  love in the uncertain world is as weak as a tender flower, which cannot stand fierce wind. Although love is a splendid thing, selfish people care more about life. Love in A Fallen City by Zhang Ailing seems to be a romantic love story, however, it tells a sad story in my view. As the characters in the story did not love each others truly, the entire process of love and marriage looked more like a trade. The successful marriages require support systems, common values, and shared aspirations in addition to love and mutual understanding (Hassan). The “love” between Bai and Fan is they need each other to rely on and it is a tragic that true love is fallen just as Hong Kong. The complication of love itself makes marriage sounds faithless.


Reference
            Eileen Chang. 2007. Love in a Fallen City. USA: Pinguin Modern
            Hassan, Hasim. 2003. The Making of Successful Marriage. http://www.asianmatrimonial.org/Indian%20Matrimonial%20articlesaboutmarriage.htm accessed on 24-7-2012