Saturday, October 16, 2010

omoiyari (dependency in Japan)

Bagi orang Jepang, Empati sangatlah diperlukan untuk menjadi seorang manusia sejati, seorang yang matang, tidak egois & bisa menghargai sesama. Empati, (bahasa jepang: Omoiyari) adalah kemampuan / kerelaan seseorang untuk merasakan apa yang orang lain rasakan ( seolah – olah mengalami sendiri ). Kebaikan / jasa yang kita beri berbuah empati tersebut berasal dari sensitivitas individu pada orang yang sedang berkesusahan. Dalam kata lain, empati membutuhkan pengorbanan Ego untuk bisa merasakan perasaan Orang ( senang, sedih, kecewa,dll).


A.    Mencapai kesepakatan
Omoiyari membutuhkan pengorbanan ego seseorang jika mereka mau merasakan apa yang orang lain rasakan. Ini menunjukkan bahwa Orang tersebut berusaha untuk tidak egois, kecuali jika teman yang sedang berkesusahan tersebut meminta saran / bantuan padanya. Contoh: orang Jepang ketika berbicara, dia tidak akan secara komplit menyelesaikan pembicaraannya tersebut. Dia memberi jeda waktu terlebih dahulu untuk membiarkan sang pendengar mencerna apa yang yang tadi dia utarakan sambil melihat apakah pendengar tersebut masih tertarik dengan perbincangan yang ia bicarakan. Jika Sang pendengar mendengar & tertarik dengan pembicaraan tersebut, dia akan memberi reaksi, seperti: I’m listening, yes / hmm. Untuk meminta persetujuan pendengar / meyakinkan apa pendengar masih fokus dengan pembicaraan, biasanya diselipkan kata Isn’t it ( iya kan ) dalam perbicangan. Hal ini berbeda dengan cara orang Amerika dalam suatu percakapan. Mereka cenderung  memberi opini ketika si pembicara sudah selesai berbicara. Hal seperti ini menurut kacamata orang jepang menunjukkan sikap seperti tidak tertarik / enggan dengan cerita yang dibicarakan oleh sang pembicara tersebut.

B.     Optimis pada kenyamanan lawan bicara
Empati merupakan pengobanan ego untuk bisa memberi saran / menyediakan apa yang lawan bicara inginkan. Sesuai dengan konsep keramahan orang jepang, sebisa mungkin mereka menyiapkan segala sesuatunya dengan apik sebelum tepat waktunya, Atau ketika ada teman yang sedang berkesusahan, Sang pendengar berusaha menghindari topik yang membuat si pembicara tersebut tidak nyaman. Semua kenyamanan ini benar – benar disiapkan secara matang & dilaksanakan tanpa banyak bicara. Kebanyakan orang Jepang mempunyai kecenderungan khawatir jika banyak bertanya menimbukan kesan mereka tidak siap / enggan dalam menerima orang tersebut. Contoh: Jika ada seorang tamu datang untuk menginap, Tuan rumah secara matang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangannya tersebut. Semua dilakukan tanpa bertanya – tanya pada tamu tersebut, seperti  apa yang dia perlukan / apa yang dia sukai. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh sang Tuan rumah.
Berbeda dengan orang Amerika yang cenderung memberi kebebasan pada teman untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa orang Amerika berprinsip bahwa tidak akan ada yang menolong anda, kecuali anda sendiri yang datang untuk meminta pertolongan secara langsung pada mereka, Sementara orang Jepang berprinsip jika ada teman yang berkesusahan, mereka akan secara langsung menawarkan bantuan, bahkan ikut kerja langsung, jika anda dinilai benar – benar tidak bisa / lambat dalam menangani sesuatu ( well meaning friends ). Contoh: Mengajarkan teman sejawat yang tidak pandai menangani program software / menolong teman mencari apartemen baru.
Kebanyakan orang asing ( foreigner) jika merasa tidak enak / risih dengan kebaikan – kebaikan yang diberi dengan orang jepang, biasanya mereka melakukan Osekkai ( menampik kebaikan tersebut secara halus, dengan tujuan untuk tidak mencampuri urusan mereka ). Biasanya  hal ini dilakukan oleh para foreigner yang belum mengerti arti omoiyari. Pada intinya, Orang jepang akan melakukan Omoiyari dilihat dari sisi seberapa butuh / menderita si teman untuk bisa berbagi pada kita.

C.     Perasaan tersinggung / sensitif
Dalam Interaksi sosial, perbuatan menyinggung / melukai perasaan orang lain dianggap telah meremehkan / tidak respek pada kemampuan orang tersebut. Contoh: menghitung kembalian bon didepan waiter / kasir. Hal ini bisa menimbulkan rasa sakit hati waiter / kasir tersebut karena dianggap tidak percaya akan perlakuan mereka. Dari sini ditarik kesimpulan bahwa orang Jepang masih kesulitan untuk menghindari perbuatan menyakiti orang lain. Oleh karenanya, biasanya orang Jepang menyetujui suatu opini didepan sang pembicara ( walau dalam hatinya belum tentu setuju akan pendapat tersebut ). Hal ini dilakukan mungkin karena rasa enggan untuk menyakiti perasaan orang lain. Oleh karena itu orang Jepang cenderung terkenal Introvert jika menyangkut suasana hati.
Sebenarnya kunci terbaik untuk menghindari perasaan salah sangka yang berakhir tersinggung adalah berbicara baik – baik secara empat mata. Karena jika terjadi salah sangka karena suatu percakapan / perbuatan, hal ini bisa menimbulkan Urami ( Iri & dendam dalam hati ). Prinsip lain dalam budaya orang Jepang, jika mereka sekali sudah benci terhadap orang, akan susah untuk mereka menyukai orang tersebut kembali. Sifat seperti ini diibaratkan seperti kulit telur, yang sekali sudah pecah tidak akan bisa dibetulkan kembali. Urami biasanya ada dalam bentuk teror, surat kaleng, bullying, atau menyebarkan isu buruk. Intinya menyinggung perasaan orang lain itu berbahaya karena nantinya akan berbalik mencelakakan diri kita sendiri
Walaupun berbahaya, sikap menyinggung perasaan orang lain ini memberikan sisi positif, yaitu memberi hukuman kepada orang yang bersikap tidak sepantasnya. Caranya adalah tunjukkan sikap tidak senang akan perbuatannya / buat dia merasa malu akan perilaku buruknya tersebut agar dia sadar bahwa itu sudah mengganggu kenyamanan orang lain.

D.    Efek sosial
Sensitivitas sosial di Jepang biasanya diperluas kedalam sensitivitas individu yang akhirnya saling mempengaruhi satu sama lain. Jika hanya ada seorang saja yang merasa peka dalam suatu keadaan, mustahil hubungan sosial akan berjalan secara lancar. Contoh: kebanyakan pria jepang jika putus cinta, dia akan menyimpan sendiri luka dalam hatinya tanpa menceritakannya pada orang lain. Dari luar ia nampak tegar, acuh seakan tidak peduli, namun diwaktu tertentu dia berubah menjadi sosok pelamun, pendiam & cenderung introvert. Hubungan sosial antarpertemanan pun akhirnya berjalan tidak semestinya, karena ketika ada teman yang menawarkan diri untuk mendengarkan keluh kesah dia, Pria ini tidak mau berbagi cerita. Akhinya pria ini seakan terasing dari pergaulan antarteman sekitar.
Orang Jepang sangat percaya dengan prinsip “jika anda mau dipercaya, anda harus menunjukkan sikap bahwa anda bisa dipercaya”. Karena pada dasarnya mereka yakin akan Magokoro ( keikhlasan hati ) sebagai dasar dari kejujuran moral. Point penting yang didapat dari gema efek sosial ini adalah Tiap orang yang berbuat salah ( tak peduli anak – anak, remaja / orang tua) jika berbuat salah dia wajib untuk meminta maaf untuk menghindari sebuah kesalahpahaman.
E.     Komunikasi intuitif
Orang jepang cenderung berkomunikasi secara Implisit ( talk less, more action). Hal ini disebabkan karena:
1. Terdapat sensitivitas sosial akut untuk membuat seseorang menyatakan perasaan secara langsung
2. Harus mencari kata-kata yang halus & santun, jika terpaksa harus menyampaikan Opininya. Orang Jepang percaya bahwa hanya orang kasar & tidak berperasaan saja yang harus diberitahu secara to the point & tegas, jika perkataan halus mereka sudk tak mempan lagi.
3. Sudah merupakan Way of life ( Cara hidup ). Hal ini dilakukan untuk menjaga harmonisasi & ketentraman dalam suatu lingkungan. Contoh: Di dalam rumah jepang terdapat pintu geser yang tidak terkunci. Ini menjelaskan bahwa orang Jepang amat menghargai privasi tiap – tiap orang, walau anggota keluarga sekalipun. Walau pintu ini tidak mempunyai kunci, butuh cara untuk untuk berkomunikasi agar harmonisasi dalam rumah tetap terjaga, seperti memancing pertanyaan tentang keadaan cuaca untuk mengajak seseorang berjalan – jalan sore. Menurut mereka, suara – suara yang terlalu ramai diperkirakan akan merusak harmonisasi suasana.
Orang jepang juga amat menghindari kontak mata ( sekalipun sedang jatuh cinta ), sebab kontak mata dianggap: tidak sopan / mengisyaratkan adanya suatu informasi besar yang penting, Contoh: berita duka cita, sesuatu berhubungan dengan pekerjaan
Dengan demikian kesimpulannya adalah Omoiyari tidak hanya melibatkan ketidak leluasaan dalam expresi verbal, namun juga dalam menatap mata lawan bicara kita.



BENTUK – BENTUK PERLAKUAN OMOIYARI

A.    Sumimasen
Arti sebenarnya adalah permisi, tetapi banyak orang jepang menggunakannya sebagai bentuk permohonan maaf, seperti sorry dalam bahasa inggris. Gomenasai sendiri jika dalam bahasa inggris seperti i’m really apologize / please forgive me. Setelah ditilik lebih dalam, sumimasen memamng bisa berarti suatu permohonan maaf ( apologize ). Mereka berbicara seperti ini karena merasa belum bisa membalas kebaikan seseorang secara pantas / meminta maaf atas suatu kesalahan kecil, seperti menyenggol orang / tak sengaja menginjak tas belanjaan orang. Ada suatu pengalaman Foreigner yang belum lama menetap dijepang ( Jean – rene cholley dalam discover jepang vol.1 hal 122).
Dia bercerita bahwa dia berlangganan daging pada tukang daging yang bertubuh gemuk, banyak omong namun ramah. Suatu hari, sehabis membayar daging & berjalan keluar pintu, Si tukang daging itu teriak padanya. Sontak Foreigner ini kaget & menghmpiri tukang daging tersebut. Ternyata tukang daging tersebut salah menempelkan barcode harga pada daging foreigner tersebut sehingga orang asing ini membayar lebih tinggi dari harga seharusnya. Berulang kali sang tukang daging mengucap sumimasen pada sang foreigner, sang foreigner memaklumi keadaan tersebut, namun ternyata setelah kejadian ini, tiap foreigner ini datang membeli daging, tukang daging ini membungkukan badannya seraya mengucap sumimasen sebanyak tiga kali. Akhirnya Lama kelamaan foreigner ini merasa risih & bertanya mengapa tukang daging selalu mengucap sumimasen padanya, padahal tidak terjadi suatu kesalahan, Sang tukang daging pun menjawab “ aku merasa belum bisa membalas kebaikanmu atas kesalahanku. Buktinya walau waktu itu aku salah menempel harga, engkau masih berlangganan daging padaku”. Dari situlah foreigner ini mengerti empati orang Jepang seperti apa & mengerti pentingnya sebuah kepercayaan dalam hubungan sosial Jepang. Memang terlihat aneh & membingungkan, tetapi ekspresi ini sudah meresap lama dalam percakapan mereka sehari –hari.

B.     Enryou & Omiyage
Enryou adalah sebuah rasa malu, sungkan, takut membuat orang lain merasa terganggu / susah atas kehadiran dia. Contoh: jika ada tamu datang bertandang kerumah kita, ketika ditawarkan minum dia mengucapkan terima kasih, tak usah repot – repot. Kita patut mengacuhkan perkataan dia tadi & menyuguhkan minuman walau hanya segelas air putih. Pernyataan yang tadi diucapkan tamu tadi dikenal dengan sebutan basa – basi & pemberian segelas air putih pada tamu tersebut menandakan bahwa kedatangan dia tidak mengganggu aktivitas tuan rumah tersebut. Karena ada suatu kekhawatiran jika ketika bertamu dalam waktu yang tidak tepat, akan menjadi beban bagi tuan rumah tersebut.
Sementara Omiyage adalah sebuah kejutan yang menyenangkan, walau diberikan tanpa alasan tertentu. Omiyage adalah suatu bentuk rasa hormat /terima kasih atas jasa seseorang yang dirasa amat berarti bagi kita. Ada contoh pengalaman orang asing yang mempunyai seorang teman jepang di amerika ( Fred Dunbar dalam discover jepang vol.1 hal 92 ). Orang jepang ini datang ke USA dalam rangka berlibur. Ketika mau balik ke negaranya, orang Jepang ini membeli sebuah oleh – oleh untuk sang guru. Bagi orang Amerika hal ini sebuah yang aneh. Orang Amerika berpikir bahwa si Jepang mau mengambil hati si guru dengan memberi oleh – oleh, namun setelah bertanya pada orang Jepang tersebut, ia menjawab bahwa suatu hal yang wajar memberikan guru oleh – oleh atas jasa – jasanya dalam membantu ia mendapat pendidikan yang berarti untuk hidup. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa suatu hubungan baik pun dapat berjalan karena adanya Omiyage sebagai bentuk respek pada sang penerima omiyage.
Berbagai contoh omiyage yang biasa diberikan di Jepang
A.    Kado perkawinan: dengan harapan pasangan baru tersebut bisa memulai hidup dengan baik & harmonis
B.     Funeral gift: berharap bantuan ini bisa meringankan hati orang yang sedang ditinggalkan & orang yang berkesusahan ini bia mengadakan suatu upacara pemakaman yang pantas.
Walau Omiyage kadang terkesan mengganggu, ini merupakan salah satu bukti bahwa ada orang yang sayang, peduli, & perhatian terhadap yang kita rasakan.

C.     Meiwaku suru
Adalah perasaan takut membuat orang lain malu / tersinggung atas perilaku kita. Intinya tidak mau menjadi beban untuk orang  lain / mengganggu aktivitas orang tersebut ( hampir mirip dengan enryou ).  Konsep meiwaku sebenarnya adalah untuk  melestarikan wa (harmonis, tanpa adanya konflik). Diharapkan dengan menyadari kesalahan& segera minta maaf akan membuat Orang yang kita buat susah tadi itu, mengerti keadaan kita.



No comments:

Post a Comment